ketika cinta mampu membuat seorang perempuan setia, kenapa cinta tak mampu membuat seorang lelaki bertahan — istana kedua

yah begitulah status sesorang di kontak list-ku, :hehe: :hammer:. Langung ngakak aku :ngakak:. Segera kusapa si mbak,..

aku: :))
siMbak: tumben menyapa duluan, dah lama ngga chat.
aku: tak kira mbak dah lupa ama aku.
—————-aku DC alias disconnected :nohope:—————-
:nohope:, kudu sabar pake koneksi GPRS murah inie :mad: :nohope:.

cukup intronya,..:hammer:

Sungguh ironi, kalo baca statusnya, sebagai seorang lelaki jantan tangguh ganteng dan mbois, yo pengin ketawa ajah. Lha mosok kalo orang-orang di sekitarnya terutama lelaki yang dikenalnya ga setia yo ga ngerti aku. Ataukah itu cuplikan dari novel? aku yo ga ngerti juga. Yang jelas, Frnomena itu ada di sekitar kita :hehe:. Lazim kiranya jika ada seorang yang bercinta,… ee,.. pacaran ae wes, nek bercinta kesan-e gimana gitu :hammer:, trus putus, biasannya yang dipertanyakan komitmennya adalah pada pihak cowok :hehe:.

Hm,.. mungkin emang cowoknya yang plin-plan, mungkin lho ya,.. Lalu bagaimana dengan ceweknya yang plin-plan? pasti si cewek ga mau dikatain plin-plan. Yo sama juga, dimana-pun lelaki juga ga mau dikatai plin-plan.!!! :mad: :hammer:

Ewh,.. Isu gender ini sebenarnya isu lama, mau diapa2an, sebenernya juga sama saja, dalam artian, semua mempunyai potensi untuk plin-plan. Tinggal sapa dulu yang mengawali. :hehe:

Simple-nya, mungkin kita melihat seorang wanita, cewek, gadis, ato apalah, yang sangat mencintai seorang lelaki, tapi nyatanya si lelaki tidak menanggapinya dengan serius. Sejurus kemudian, orang2 disekitar gadis tersebut mulai beropini, mulai berasumsi, bahwa si cowok sok, si cowok sok Jaim, atau sebutan lainnya lah. Yang jelas, disini diasumsikan si cewek menjadi korban dan si cowok pelaku-nya.

Hm,.. menarik, bagaimana jika sebaliknya,.. cowok jadi korban dan cewek pelaku-nya :hehe:. Isu gender lagi :hehe: :berbusa:

Terlepas dari semua kemungkinan dan kenyataan yang ada. Salah siapa yang membiarkan perasaan itu menggebu? jangan salahkan perasaan-nya, salahkan diri anda sendiri, gitu aja kok repot. Yah, mungkin itu perkataan dari saya, seorang yang ga pernah berhubungan/bercinta dengan wanita. ha ha ha ha ha :hammer:

————————————————————-

Yang jelas, isu gender tidak terlibat dalam perasaan yang menggebu tersebut, kecuali hanya sebagai batasan bahwa, perasaan tersebut hanya boleh diberikan kepada lawan jenis, bukan sesama jenis. Mengenai apa dan bagaimana perasaan itu ada, orang bilang itu gift, alias anugrah. Sama dengan anugrah lainnya, jika sudah bercampur nafsu bisa gaswat :hehe:. Dan jangan pernah membandingkan anda dengan orang lain, itu juga Fatal :hehe:,

Solusi-nya?, gampang, segera bikin komitmen, apapun bentuknya, lebih baik hubungan yang berkomitmen. Mengenai perbahan status hasil dari komitmen, itu juga urusan lain. Yang jelas, dengan komitmen kita bisa memposisikan diri kita bagaimana harus berinteraksi dengan orang lain. Setahu saya komitmen bervariabel waktu, jadi komitmen bisa berubah seiring berjalannya waktu.

Pesan saya, hm.. saya pesan nasi pecel satu, dan kopi. :hehe:

Ohya, disebut menggebu, karena biasanya cuman sesaat, atau beberapa waktu, lebih jelasnya dalam waktu yang singkat :berbusa:, kalo diteruskan juga akan melelahkan, ibarat nafas, kalo terengah-engah juga paling beberapa saat, setelah itu yo hilang :hehe:. Kenapa ga bernafas dengan pelan, pelan, nyantai. Toh juga pasti bernafas tho? Makanya orang bilang, terkadang kita perlu berlari untuk mengejar sesuatu, kalo berlari yo jelas ter-engah2 :hammer:

regards,
tolahtoleh.comâ„¢