tentang pikiran v.1
May 28 2008
Babling, relationship lingkaran, pikiran, sedikit pemikiran 3 Comments
Tulisan ini sekedar obat bingung bagi saya sendiri
, di tulis sebagai pelarian dari kepenatan mengerjakan sesuatu yang harus di kerjakan, dengan kata lain, saya sedang mangkir
, semoga bermanfaat.

keterangan:
Pikiran kita, ssbut saja demikian, adalah serangkaian kejadian yang terpampang sebagaimana yang ada pada gambar diatas (menurut saya), pikiran adalah sebuah proses berfikir. Sebagaimana pada umumnya, pada saat kita berfikir, kita akan melakukan proses pertama (1), yaitu dengan menggunakan perbandingan atau rasio. Rasio ini digunakan untuk mengetahui apakah sesuatu yang kita pikirkan masih dalam koridor pikiran itu sendiri. Jika masih bisa dibandingkan, maka kita menyebutnya (2) rasional. Walaupun tergolong Rasional, ada kalanya sesuatu yang kita pikirkan tidak masuk akal (5), terlepas dari apa penyebab kenapa tidak masuk akal, yang jelas, ga masuk akal
. Dan jika masuk akal, maka kita akan berkutat lagi dengan proses sebagaimana proses pertama (1) .
________________________________________________________
Berangkat dari paparan diatas, mari kita telisik lebih mendalam ![]()
Persoalan yang paling mudah digunakan sebagai contoh untuk menjelaskan jalur pikiran diatas adalah mengenai benar dan salah. Sepertinya kita bisa berlogika bahwasanya, jika sesuatu dianggap benar, maka harus ada pembanding agar bisa diangggap benar, yaitu salah. Kita memerlukan pembanding agar otak/pikiran kita bisa menerima konsep kebenaran. Karena pikiran hanya sebatas pembanding. Menurut saya, itulah keterbatasan akal/pikiran manusia.
Persoalan benar salah sudah ada sejak dahulu. Jika nilai kebenaran ini ada sejak dahulu, maka nilai kesalahan yang identik/pasangannya juga ada sejak dahulu. Maka, sejak dahulu kita juga punya definisi terhadap sesuatu itu benar atau salah.
dalam menentukan definisi, kita juga menggunakan pikiran kita. Kita juga nantinya terbentur dengan batasan akal/rasio/pikiran kita sendiri, dalam artian, setiap definisi selalu mengacu pada definisi yang telah ada.
Bagaimana jika definisi tersebut belum ada?
Sepertinya tidak mungkin, karena untuk membuktikan bahwa definisi itu benar atau salah, maka kita harus kembali ke masa-lalu, dimana pertama kali definisi tersebut dianggap benar
. Atau, kita juga bisa belajar memahami semua definisi yang telah ada sepertinya itu juga tidak mungkin
![]()
Solusinya,
Menurut saya, kita bisa mempersingkat waktu pembelajaran mengenai benar dan salah harus dengan pikiran terbuka. Ingat, kita butuh titik acuan untuk menyatakan sesuatu itu benar atau salah. Ilustrasinya, anggap kita sedang berada pada sebuah lingkaran, dan pemahaman awal/acuan kita berada pada titik pusat jari-jarinya. Sudut yang dibentuk oleh pikiran anda itu-lah yang kemudian disebut sebagai sudut pandang. Besar sudut pandang ini tidak sama untuk tiap orang. Oleh karena itu, terkadang kita perlu sudut pandang dari orang lain, untuk mendapatkan tambahan sudut pandang, agar sudutnya menjadi lebih luas.

[continued......] *lembar berikutnya hilang,.. nda tau kemana.. ![]()
regards,
tolahtoleh.comâ„¢




May 30, 2008 @ 16:18:21
sementara artikel ini di pending untuk edisi ke-2 nya
…

Setelah dicari2,.. ga ketemu juga lembaran tulisan yang musti ketulis
__________
Reply