Emansipasi wanita

Menyambut hari kartini, mari sedikit berpikir lebih terbuka, :hehe:, sebuah repost, karena males nulis lagi, :hehe: Dengan semangat kartini :hehe:

____________________________

Hm…

Rodo sensitif memang topik ini, tapi mau gimana lagi,..

Ya,.. minta maaf sebelumnya jika ternyata topiknya terlalu Frontal

Tapi aku suka kontroversi,..

Wakaka

Biar bisa membuka mata pikiran telinga dan hati,..

Wehehehe

Emansipasi wanita

Setjara terus terang, saja tidak setudju dengan jang namanja emansipasi wanita.

Di satu sisi, mereka ingin di dudukan dengan sederadjat dengan priya,

Namun, disisi yang lain, mereka ingin diperlakukan seperti wanita,

Mungkin ini jang menjebabkan Einstein berkata

“Some Men spend a lifetime in an attempt to comprehend the complexities of women. Others pre-occupy themselves with somewhat simpler tasks, such as understanding the theory of relativity!”

semoga kutipan penulis tidak salah,

Nah, kata orang jang pinter sadja demikian, apalagi kata saja, seorang bodoh jang hanja ingin berkoear-koear,..

Disaat mereka dibutuhkan perannja seperti lelaki (ataoe yang lebih mudah disebut dengan kesetaraan peran dengan priya/lelaki), mereka bilang, “saja khan wanita”, dasar wanita sialan. Sebuah kasus, sebut saja pertjeraian para artis ibu koeta, mereka bilang, “suami saja tidak tjukup untuk menafkahi saja selama seboelan, penghasilan soeami saja lebih ketjil daripada penghasilan saja” . Pernjataan apapula itu?, kenapa mereka hanja berbitjara seolah mereka hanja seorang wanita jang lemah? bukankah djika dihadapkan dengan emansipasi wanita, mereka jang paling menuntut haknja, dengan berkoear-koear “saja ini seorang wanita, sepantasnja diperlakukan sebagai wanita..!!! Dengan djaman moderen, sepatutnja kami mendapatkan perlakuan jang sama dengan para priya, ini djamannja emansipasi, bung,”. Keparat pula wanita artis itu, tidak usahlah disebut nama, nantinja malah djadi bahan pergundjigan.

Sekedar berpendapat, semoga teman wanita saja membatja tulisan ini, saja sangat salut dengan pernjataan teman saja, ketika dihadapkan dengan kenjataan bahawasanja, nantinja djika penghasilannja lebih besar daripada soeaminja, dia akan mendjadi toelang punggung keluarga. Dia tidak mempermasalahkan itu. Baginja, hidup berkeluarha itu tidak melulu soeami jang djadi tumpuan hidup. Salut saja untuk pernjataannja, tapi itu sekarang, tidak tahu nanti, setelah dia menikah, kita lihat sadja nanti. (teman wanita ini salah satu teman wanita jang menurut saja djujur dalam berboeat, seorang wanita jang pantas untuk didjadikan rudjukan manakala kita ingin mendapatkan djawaban mengenai seorang manita moderen. Ia hidup dalam dunia jang menurut penulis tjukup kompleks, sehingga patut untuk di lontarkan pertanjaan atasnja, mengenai emansipasi wanita, ia bukanlah seorang aktifis, ia hanja seorang mahasiswi jang tangguh dalam perdjoeangannja untuk mentjari djati diri, hingga ia dihadapkan pada banjak pilihan untuk mendjalani hidup, dan iapun sampai saat ini telah sukses dalam kehidupannya, tanpa menjebut bahwa sukses itu dari keadaan perekonomiannja, jang notabene sudah berketjukupan setjara materiil. Semoga kisah teman wanita saja, tidak menghalangi penilaian saja atas wanita moderen, memang saja hanja ambil satu untoek tjontoh. Namun latar belakangnya membuat penulis yakin setidaknja bisa mendjasi rujukan sebagai wanita moderen )

Djika dirunut, sebernarnja tidak ada yang salah, djika didjalankan dengan benar, tapi ya itu tadi, kepa banjak wanita berkeinginan untuk ber-emansipasi? djika dirinja sendiri terlalu menuntut hak, hak inilah hak itulah, bukanja saja menentang, tapi, setiap orang itu, dalam pelaksanaan hak dan kewadjiban, djanganlah kita melanggar hak dan kewadjiban orang lain.

Page 1 of 2 | Next page