Berbekal tabungan yang tersisa, bulat sudah tekatku untuk membeli sebuah sepeda. Pilihan awal jatuh pada Sepeda Lipet (Folding Bike). Setelah lama dipikir, akhirnya pilihan jatuh ke sepeda MTB alias sepeda Federal yang dulu mau sepeda MTB apapun kek tetep bernama Federal :hammer:. Pilihan ini bukan karena apa, tapi karena anggaran yang sedikit ditambah lagi hasrat :berdebar: yang menggebu dan kebetulan ada yang jual sepeda murah dan masuk dalam target budget :hammer:.

Awal cerita sedang berkunjung ke Kediri, dan cangkruk di warung kopi pak Barok di daerah.. ee.. lupa, deket alun-alun lah, trus masuk gang disekitar Hotel Insumo *duh lupa, padahal sering kesana, dan juga sempet SMA si Kediri pula’ :hammer:. Pada saat ngopi, kulihat sepeda MTB federal, model lawas bin jadul, dan frame-nya tubing-nya kecil gak kayak Frame jaman sekarang yang segede lengan :hammer:. Semakin dilihat semakin menakjubkan, karena terlihat bahwa boleh dibilang gak ada karat disepeda tersebut. :wedew: niat tenan mas iki ngerawat sepedahe (niat bener ngerawat sepedahnya). Yang lebih menakjubkan adalah, sepeda selawas itu Crank-nya Deore LX :hehe:, mana kinclong warna silver. Shifter pake Alivio, dan Vbrake pake Shimano non series. Sekilas, bener-bener jatuh cinta dengan sepeda tersebut. Tapi sayangnya yang punya gak ngejual dengan harga berapapun :hammer:, karena sepeda tersebut pernah memenangkan Hadiah sepeda Motor pada event jaman dahulu kala :hammer:.
Dari perbincangan dengan yang empunya, terlontarlah sebuah tawaran kalau mau sepeda, kalau belum terjual bisa nanti di cek keberadaan sepeda tersebut. Kalau minat saya bisa membelinya. Dengan bujet yang 1,5 juta, dan nyatanya harga penawaran dikira-kira juga gak sampe 1,5 juta ya sudah, diputuskan untuk menunggu kabar bilamana sepeda sudah laku apa belum.

Sepulang dari kediri, dapet kabar bahwa sepedanya belum laku dan kondisi masih sip. Aku manut ae, toh yang bilang juga seorang penyuka sepeda. Jadi, kiranya bukan tipe makelar dll. Singkat kata, minggu depannya ke kediri dengan bareng dengan Nikahnya si DIan+Bram sekalian bawa uang untuk nebus itu sepeda. Pikirku, kalo emang jodoh ya langsung di bayari, kalau tidak yo ndak usah di beli.

Sepulang dari acara akad nikah dan malam itu juga aku samperin si penjual sepeda. Setelah diterawang sana dan sini :hammer:, sepeda memang dalam kondisi mulus dan siap tempur. Seperti biasa, tanya tip-tips perawatan yang kiranya bisa bermanfaat, karena sudah lama sekali tidak menaiki dan merawat sepeda. Kali aja ada tips dari sang profesional. Ternyata benar,.!!!

Jangan memberikan Oli jenis apapun pada rantai/chain. Karena justeru malah mengumpulkan debu/kotoran. Dan jangan sesekali memberikan WD-40 pada rantai. :hammer:. Padahal dulu, kalau sepeda balap-ku jibrat[1] olie, aku malah senang, karena sudah pasti bebas karat :hehe:.

OKE, deal masalah harga sekarang packing sepeda tersebut, bagaimana bisa muat keatas sadel Honda Grand. Dicopot roda Depan dan Belakang, diiket dengan blablablabla. Dan siap dibawa pulang :hammer:. Juga tidak lupa untuk bertanya jika roda-roda dilepas, bagaimana cara memasangnya :hammer:. Beruntung pake’ hub model quick-release :hammer:.

Singkat kata sampailah sepeda tersebut dirumah dengan kuangkut pake’ Grand, sekitar jam 11 malem :hammer:. Karena paginya harus ngantor, maka sepeda motor dan sepeda MTB kuparkir dirumah, kalau bablas Madiun bisa bablas pula nyawa inie :hammer:. Tidur barang sebentar sudah subuh :nohope:, siap2 balik ke Madiun yang kira2 70km dari rumahku. Pertimbangannya, jika balik naik motor-pun rasanya juga gak enak, lha wong akhir minggu, kalopun dibawa kemadiun, Sore-nya annti aku juga pulang lagi, masak 2 hari berturut2 naek motor PP Madiun-Kertosono ?? :mad: :berbusa:. Pas dipasang balik ternyata velg/rim dari sepeda bengkok, karena tekanan dari tindihan Frame kali’ Yaudah serahin ke pakdhe, karena beliau bengkel sepeda. Gak sampe sehari sudah jadi sepedahnya.

Permasalahan mulai timbul lagi ketika akan membawa sepeda tersebut ke Madiun. Kalau diangkut semacam packing dari kediri kerumah, bisa bengkok lagi tuh velg. Sayang, jika harus dilurusin berkali-kali. Walaupun itu hanya setel spoke/jerujinya doang. Oke, dipilih Kereta, karena angkutan rakyat, dahulu kala pernah kubawa sepeda balap-ku *sepeda sedari SMP sampe sekarang masih ada :hammer:, naik kereta dari kertosono ke surabaya. Pada saat awal-awal kuliah, karena tidak ada kendaraan lain kecuali sepeda balap tersebut.

Ndilalah tukan tiket kereta-ne resek, pas aku nyoba jujur, dateng ke loket tiket, dibentak-bentak model kayak mbentak ternak. Akupun juga heran kenapa pula bapak inie..?? Sedikit terpancing emosiku ketika bapaknya bilang..
“larang tiket keretane” (mahal tiket keretanya),
*Diamput,..!!! batin atiku, tak tuku raimu iso pak;-tidak diterjemahkan pikir dewe ya..* tiket kereta ekonomi bakal semahal apa sih..?? dikantongku ada sekitar 200 ribu, mosok kertosono-madiun gak cukup pake duit segitu? biasanya penumpang lainnya asal naik aja lho.
“kalo bawa sepeda kena berapa pak.?” tanyaku,
“Ditimbang dulu mas, khan masuk ekspedisi” wtf, aku dulu cuman bayar 2 kali tiket kereta kalo gak salah,
“OKE, jadi berapa total saya harus bayar.?”
@#@&(!&#^ beliau si bapak bergumam gregetan dengan ulahku yang berlagak mbulet, lha aku juga mangkel, mana seringkali kulihat orang bawa sepeda di bordess, yang aku gak suka adalah matanya yang melotot sambi teriak-teriak kayak menggiring ternak :mad: muwatamu uwasyu pak sempalng sempak gundulmu kwe mengko **sekalilagi dibatin :hammer:.

Singkat cerita, kunaiki lagi sepedaku menuju arah Terminal bis[2]. Ndilalah gak ada satupun bis yang mau ngangkut sepedaku, analisaku mengatakan, simple, saat itu adalah weekend. Dan bis hampir selalu penuh dengan penumpang. Tanpa menyerah aku menuju ke arah Traffic Light dimana biasanya para penumpang bis mengangkut barang bawaan extra jumbo, biasanya berupa beberapa karung barang dagangan :hammer:, iyah,.. beberapa karung, gak cuman sekarung.

Beruntungnya daku, ada bis yang amat sangat gak masuk diakal yang mau ngangkut sepedaku :hehe:. Hebadnya, tidak dimasukkan dalam bagasi,..!!! tapi di letakkan dikursi paling belakang :hammer:
sepeda_dalem_bis sepeda_dalam_bis_2

berikut spek Sepeda Federal-ku
Groupset Shimano STX, walopun gak ngerti seberapa original STX-nya.

  • Rear/Front Hub: Paralax STX
  • Velg: Araya CV-7
  • Ban: IRC (standart)
  • Front Brake: Shimano STX
  • Rear Brake: Deore XT  BR-M770 (baru ganti)
  • Chain: shimano (lupa series)
  • Helm: United
  • RD: Shimano STX
  • FD: Shimano STX
  • Crankset: Shimano FC-MC30 /STX From this link
  • Cassete: Monsoon, keknya 11-28 (lupa gak ngitung :hammer:)

Sisanya Standart, kecuali Sadel yang direnovasi karena kurang empuk, dibawa ke tukang Sadel/Jok sepeda motor, minta ditambahin Busa, nambah 15.000. Upgrade yang telah dilakukan adalah: menganti Rem dengan Deore XT, baru satu buah-di belakang, dan ban Dalam depan-belakang.

Rencana Upgrade berikutnya:
Ganti Setir, ganti Ban ukuran 26-150, ganti Sadel. Itu yang prioritas, sisanya re-paint dll, urusan belakang.

Review: Overall, sepeda ini kinyis2 dan gak tega kalau ada debu nempel, ibarat pepatah, mending ngelus-ngelus sepeda daripada bini orang :hammer:

Last Ride: berangkat ke Dungus, seminggu sebelum awal puasa. Setelah Lebaran akan dibawa ke-Ngebel :hehe:.

Gallery
[nggallery id=11]

*edited, nambai Gallery

regards,
tolahtoleh.com™

  1. belepotan(&#8617)
  2. yang seumur-2 setahuku gak pernah ngangkut sepeda(&#8617)
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks