Topik yang ditulis kali ini mengenai azas kemanfaatan manusia. Terlihat berat dan topik yang mbulet bin belibet :hammer:. Tapi semoga tulisan ini bisa menjernihkan pikiran anda, jika berkenan, boleh traktir saya es cincau, es cao, es janggelan[1] atau apalah,.. :nohope: ragam bahasa indonesia banyak sekali,.. bikin bingung ,.. :hammer:. Padahal saya juga ga terlalu paham dengan apa yang saya tulis inie :hammer:

Ada sebuah keadaan yang dimaklumi oleh banyak pihak, termasuk saya sendiri, bahwa setiap manusia didunia ini selalu membawa manfaat. Jika seseorang yang berilmu, kelak ia akan mengamalkan ilmunya, yang jelas untuk orang2 disekitarnya,..[2]. Dalam artian anda bermanfaat dalam kategori yang baik.. :hehe:

Kemudian ada seorang penjahat yang brutal, mass murderer, penjahat perang/genosid, atau penjahat kelas kampung yang suka nyuri ayam tetangga, atau penjahat beHa yang suka nyuri beha tetangga, ( :nohope:, kenapa juga ada beha dibahas dimari? :nohope: ). Sebagian besar orang pasti menggangap begundal tersebut sangat tidak bermanfaat, :hehe:. Wajar, karena sang penjahat melanggar nilai/ norma yang telah ada.

Dari ilustrasi diatas, belum bisa disimpulkan mana yang lebih bermanfaat dari yang lainnya. Karena perbedaan sudut pandang akan merubah pula pemahaman yang didapat. Karena keterbatasan sistem berpikir kita, karena kita hanya bisa membandingkan atas dua hal yang saling bertolak belakang seperti halnya tentang perasaan yang saling melengkapi.

Kesimpulan awal yang bisa diambil adalah, bahkan seorang penjahat-pun bermanfaat dan diperlukan[3]. Bahkan seseorang harus bentindak jahat agar proses pembelajaran bisa berlangsung, dengan resiko sang penjaht harus dibenci :hehe:. Tapi sungguh, kehadirannya tidak bisa disangkal[4].

Yang terjadi kemudian adalah anda akan berpikir keras mencari kesimpulan dari tulisan ini :hehe: :hammer:, sungguh saya tidak berniat membingungkan para pembaca sekalian,[5]. Semua di dunia nyata ini sifatnya seimbang dan berimbang[6], jika kita merasa bermanfaat dan berguna, maka jangan mengeluh jika suatu saat kita menjadi tidak berguna, atau bahkan malah merepotkan,..

Jangan khawatir kawan, sedikit khawatir diperlukan karena kita butuh suau penggerak agar dikatakan hidup, atau setidaknya penanda waktu bahwa kita telah berbuat sesuatu, semua harus disikapi dengan santai,. tenang,… :hehe:.

kesimpulan dari tulisan ini adalah, bagaimana jika anda berada pada keadaan yang tidak bermanfaat atau bermanfaat, sebuah paradoks dari ambivalensi premis.[7]

show

Selamat bingung :beer:

__________________________________:kabur:

regards,
tolahtoleh.com™

  1. sebutan di daerah saya,..()
  2. baik itu murid, teman, sahabt, keluarga, bahkan perusahaan tempat anda bekerja :hehe:, kalo ga bermanfat yo dipecat :hammer: ()
  3. setidaknya biar ada yang dikatakan bahwa seseorang itu baik, maka dibutuhkan seseoang yang jahat agar kebaikannya diakui()
  4. toh untuk disangkal juga perlu acuan khan? :hehe: ()
  5. toh sudah saya katakan, jika ingin keterangan lebih lanjut, luangkan waktu dan uang untuk traktir saya es cao, cincau, janggelan.. ee.. yaa. itu lah,.. :hammer: ()
  6. walau kenyataannya harus ada yang berbeda agar terjadi harmoni, jasit kata-kataku,.. :nohope: ()
  7. kemudian daripada itu, saya sendiri tidak mengerti apa artinya,.. :malu: ee,.. pengin nulis, karena sepertinya kata paradoks dan ambivalens keren,.. :malu: :hammer: :berbusa: :gila:  ()