hadjarBleh,..!!!

jika di search di google akan menemukan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan saya :hammer:

Maksud tulisan ini adalah masih tentang bagaimana kita menyikapi kemajemukan dalam bermasyarakat. Sungguh, pusing rasanya jika kita selalu beranggapan bahwa kita selalu yang benar. Sesekali buatlah kesalahan, sehingga anda bisa merasakan, bagaimana jika menjadi salah. JIka sudah merasa bersalah terus apa yang anda lakukan? wow, menarik sekali[1],

Setiap orang berbuat salah, baik diakui oleh dirinya sendiri atau tidak[2], bukan salah atau benar tindakan kita. Tapi apa yang anda lakukan jika ternyata ada orang disekitar anda berbuat kesalahan, bisa jadi kita acuh, EGP, dll :hammer:

Proses pembelajaran yang lebih lanjut di tuangkan dalam sebuah perwujudan/aktualisasi tindakan/perbuatan[3]. Ambil contoh gampang, sangat gampang sekali :hehe:.

Jika anda sekarang beranggapan anda benar, lalu beberapa orang dilingkungan anda berbuat salah, kemudian semua orang menganggap anda semuanya sama. KOnkretnya, jika anda seorang mahasiswa, sedang mengikuti ujian, salah satunya ketahuan mencontek, eh nilai satu kelas dibatalkan :hehe:, kiranya apa yang akan anda lakukan? :hehe:. Tentu anda akan ngeyel, dan ngomong ke dosen yang bersangkutan bahwa anda tidak mencontek, bukan anda bukan bukan dan bukan. Dan apa jadinya jika sang Dosen bersikukuh tidak mendengar pendapat anda..? :hehe:. Apa yang anda lakukan? mengajukan banding ke DIKTI? :hehe:[4], mungkin juga anda nekat, toh itu masih di dalam tehap kemampuan anda :hehe:.

Ada kejadian yang tidak mungkin anda hindari, dan kejadian itu diluar kuasa anda, dan sayangnya anda dan orang-orang yang sepaham anda di di generalisasikan. Salah siapa coba? saya yakin anda tetep merasa ga bersalah, misalpun merasa bersalah, anda juga ga bisa ngapa2in kecuali komplain. Saya menawarkan solusi gampang,

solusi,
Bagaimana dengan mengacuhkan semua isu, semua tuduhan mengenai anda dan orang-orang yang sepaham dengan anda.Life must go on – kata Le Ann Rimes, dan anda juga ga akan mati dengan dianggap bersalah[5]. Isu tersebut sangat-sangat jauh urusannya dengan mati, jangan dipirkan terlalu serius. Rentang hidup kita paling tidak terentang sekitar 12 jam[6] kedepan. Apa yang akan anda lakukan selama 12 jam kedepan itu yang lebih penting.

———–panjang juga intronya———–
Terkadang kita harus memikirkan sudut kejahatan dan mengungkapnya, mengucapkannya, menyerukannya, agar semua orang tahu. Walau terdengar picik, terdengar naif, bahkan seringkali kita mencibirnya, tapi kemungkinan kejahatan itu ada. Namun terkadang kita malah mengacuhkan kenyataan bahwa potensi kejatah itu ada. Kenapa seruan, ucapan, hardik-an tersebut selalu ditanggapi dengan emosional?
Ilustrasi mahasiswa diatas hanyalah contoh paling simple, yang tidak berkenaan dengan SARA. Bilamana isu tersebut berkenaan dengan SARA[7], tentu serta merta anda akan menanggapi hardikan dengan hardikan. Bilamana hardikan itu berasal dari golongan anda sendiri? :hehe:. Bilamana seseorang diantara anda sadar potensi kejahatan tersebut, dan diungkapkannya di depan publik, tentunya dengan alaasan etika, tabu, dan privasi, semuanya menadi kabur, seolah hal tersebut tidak layak diperbincangkan. Jikalau anda juga menyadari tentang potensi kejahatan tersebut, tentu anda akan berkata, tidak semua diantara kami begitu.
Owh, tentu saja tidak semua diatara kalian demikian, tapi bilamana justeru penjahat itu anda?, bilamana anda orang yang sangat berpotensi untuk menjadi kejahatan tersebut?

Sudut pandang yang picik, dan picek akan membuat kesimpulan anda berujung pada sudut yang sangat sempit sekali. Perlebar sudut anda dengan menambah wawasan, beri makan pikiran anda. Jangan cuman berpikir yang benar itu benar, yang salah itu salah. Bahkan seorang panglima perang bisa berkata kalo dia menghancurkan seluruh desa di lereng pegunungan, karena disitu ada pemberontak, padahal, didesa itu banyak orang yang tidak berdosa. Anda bisa jadi membenarkan tindakan sang panglima perang, karena anda tidk termasuk dalam korban, atau keluarga korban[8]

Salah benar hanya masalah sudut pandang saja kawan,… :beer:

show

———–end———–
Sesungguhnya menurut saya, diskusi itu tidak harus ada titik temu, kesepahaman dan lain sebagainya, penambahan wawasan, itu yang lebih penting, perluas sudut pandang anda, anda mungkin benar, tapi bisa jadi salah, biarlah hisab hari akhir yang menentukan, :beer:

Kenapa postingannya berjudul hadjarBleh, seperti majas, sedikit untuk mewakili semuanya, dan semuanya untuk mewakili sedikit, maka, hadjarleh, hadjar semuanya,.. itulah kiranya kenapa harus menyebutkan mayoritas[10]

_________________________________:ngacir:

regards,
tolahtoleh.comâ„¢

note:

  1. apa yang anda tarik,.?? :hammer: ()
  2. padahal, setiap orang bisa menjadi saksi atas dirinya sendiri :beer: ()
  3. bahkan ada slogan calon apa gitu di tipi2,..hidup adalah perbuatan :nohope: ()
  4. anda ga akan senekat itu :hehe: ()
  5. dengan asumsi, anda bisa membaca tulisan ini, setidaknya anda dalam kondisi kenyamanan hidup, bisa internetan, dan punya waktu luang membaca tulisan ini :p ()
  6. walopun, idealnya manusia akan mati jika seminggu tanpa air dan 2 minggu tanpa makan :hehe:, so 12 jam adalah waktu yang cukup lama, sebelum jelang kematian anda :p ()
  7. yang sebenarnya menurut saya peribadi, SARA itu adalah Sikil, kaki. Awak, badan, Rai, wajah. Ambu, bau. Bukan suku, agama, ras, antar golongan :p ()
  8. Jadi inget pilem blood diamond-nya Leonardo di caprio, lalu pilem Hotel Rwanda, Something Ripped In April-kalo ga salah judul :hammer:, , yang tangannya dipotong karena beda ras,.. :hammer: ()
  9. QS. Al Hujurat ayat 12 , belum lagi tulisan,. ‘hati-hati dengan lisanmu’, yang kalo orang lain membacanya langsung sinis, muntab, lah, untung saya ga paham apa maksudnya, wong saya menulis, ga ngomong,. :qeqeqe: :hammer: :hehe:, ()
  10. salam kasus saya mayoritas jilbaber :p ()